Menu Utama

Tak Bisa Lepas dari Bisnis Distribusi Handphone



Bisnis handphone tidak bisa dilepaskan dari kehidupan Ellianah Wati Setiady. Di tangannya, ia menjadikan perusahaan yang dipimpinnya PT Trikomsel Tbk diakui menjadi penyedia perangkat  keras (handphone) dan produkproduk telekomunikasi terkemuka tidak hanya di Indonesia tapi juga se-Asia.   Kini menjabat sebagai Direktur Operasional, Ellianah menjadikan perusahaannya sebagai distributor perangkat handphone dan produk telekokomunikasi paling besar tidak hanya di Indonesia, tapi juga di Asia.        “Teknologi komunikasi berkembang sangat cepat, dan tak berlebihan mengatakan kalau handphone sudah menjadi sebuah kebutuhan,” ujar Ellianah yang pernah menjabat sebagai marketing director Trikomsel. Ellianah yakin potensi pasar penjualan handphone di Indonesia masih sangat besar. Buktinya, pada tahun 2010 lalu, ia mampu mencapai target penjualan yang dipatoknya sebanyak 20 persen. Untuk mencapainya, Ellianah pun membuka lima cabang baru pada awal tahun lalu di sejumlah kota, termasuk Kudus dan Purwokerto, Jawa Tengah. “Proyeksi ini berdasarkan pembeli potensial,” ujar Ellianah.  Menurutnya, ia selalu membuka gerai baru di kota-kota yang memang memiliki pembeli potensial. Ia mencontohkan, Kota Kudus. “Kudus memiliki potensi yang sangat besar. Ada lebih dari 100 retailer dan konsumen langsung. Di samping itu, kota ini memiliki daya beli yang tinggi,” analisis Ellianah.Bicara soal pasar handphone, ibu dua anak ini bicara begitu lancar. Tanya saja soal peluang merek-merek status quo seperti Nokia, Samsung, atau Sony Ericsson.   Ellianah mengatakan merek  yang sudah populer terlebih dulu sepertinya kini tidak hanya bisa mengandalkan pada nama saja. Telepon genggam dari China, dengan jumlahnya lebih dari 80 merek, kini membanjiri pasar low end yang merupakan pangsa basar terbesar di Indonesia. Tak hanya menawarkan fitur-fitur yang komplit, kata Ellianah, handphone buatan China juga dijual dengan harga yang sangat murah kalau dibandingkan dengan handphone yang memang sudah punya nama seperti Sonny Ericsson, misalnya. “Sebagian bahkan ada yang memiliki kesamaan desain dengan merek-merek handphone yang sudah populer,” ujar Ellianah. Namun demikian, Ellianah masih sangat optimistis kalau merek yang memiliki nama yang sudah moncer seperti Nokia yang terus berinovasi, akan terus mendominasi pasar di Indonesia. “Ini bisa dilihat dari pangsa pasar Nokia di Indonesia yang masih sangat besar yakni sekitar 57-58 persen,” papar Ellianah.Ellianah mengakui merek-merek baru akan berdampak pada penjualan Nokia, namun pengaruh itu tak terlalu signifikan. “Kalau pun keberadaan mereka baru itu berdampak terhadap pangsa pasar, jumlahnya tak lebih dari 5 persen. Karena itu hanya akan berdampak pada segmen,” ujar Ellianah dengan lancar.Ditunjuk menjadi direktur operasional sejak Juli 2009, jebolan Arkansas State University  ini bertanggung jawab terhadap penjualan dan distribusi produk Nokia di negara kepulauan ini. Ini bukan pekerjaan yang mudah. Namun dengan manajemen yang bagus dan dengan memfokuskan pada bisnis intinya, pertumbuhan perusahaan Ellianah berkembang sangat pesat. Dari yang semula hanya distributor handphone dan produk operator, kini menjadi provider telekomunikasi dengan nama OkeShop. Bahkan nama yang disebut terakhir malah lebih dikenal dibandingkan dengan nama perusahaannya sendiri.  Diceritakan, sebelum muncul dengan namanya seperti sekarang ini, Trikomsel memakai nama Ponsel Direct. Nama Oke Shop baru dioperasikan sejak tahun 2000. Ceritanya, kata Ellianah, setelah menggaet agensi dan brand consultant dipilihlah nama Oke Shop. Pemilihan nama Oke Shop pun diakui cukup sederhana, namun dianggap unik. ”Sebutan ‘oke’ kan mudah diingat, diucapkan, dan hampir semua orang di seluruh dunia menyebutnya setiap saat,” cerita Ellianah.  Dengan perkembangan yang amat pesat membuat perusahaan yang dikelola Ellianah mampu meningkatkan kesejahteraan para stakeholdernya, bukan hanya karyawan dan pemegang saham, namun juga mereka yang menjadi pelanggannya. Ellianah menjadikan perusahaannya tumbuh secara dramatis dan sekaligus menjadikannya sebagai perusahaan retail terkemuka di Indonesia.Dikatakan, OkeShop kini menjadi jaringan retailer telepon genggam terbesar di Asia yang memadukan konsep gerai penjualan multi-merek, multi-operator ke dalam sebuah layanan yang komplit. “Ini bisa tergambarkan dengan adanya layanan Oke Reload bagi mereka yang ingin mengisi pulsa dengan cara melalui voucher dan elektrik serta fasilitas Oke Plus untuk melakukan pengunduhan multimedia,” ujar ibu Ryan dan Raymond ini.Pada awal tahun 2000, baru ada 40 gerai dan pada tahun 2004, jumlahnya telah meningkat jauh menjadi 400 gerai, dan dua tahun kemudian, sudah mencapai  564 gerai. Di penghujung 2007, jumlah  telah meningkat menjadi 707 dan pada akhir 2008, jumlahnya jadi 808. Gerai-gerai ini berlokasi di 141 kota di seluruh Indonesia, termasuk Jabodeabek  dan sejumlah kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Lombok dan Papua. Jumlah tersebut terus bertambah, dan pada awal tahun lalu jumlahnya bahkan kabarnya sudah mencapai 1.000 gerai.   Dengan jumlahnya yang semakin bertambah banyak dan berada di lokasi yang strategi seperti pusat perbelanjaan, supermarket  dan toko-toko buku di seluruh penjuru wilayah Indonesia, perusahaan Ellianah menjadi distributor terdepan, khususnya bagi produk komunikasi nirkabel  dan gadget multimedia.Sejak tahun 2008, Oke Shop tidak lagi fokus pada toko kecil-kecil, namun lebih konsentrasi pada  pembangunan flagship dilakukan. Flagship store merupakan outlet terbesar dengan luas area di atas 100 meter persegi (m2). Ellianah mengatakan flagship store yang telah terbangun di antaranya Pondok Indah Mall, Mal Taman Anggrek, dan Pacifik Place, ketiganya di Jakarta, serta Panakukkang Mall di Makassar. Outlet satu skala di bawah flagship store adalah life style store. Ukuran toko ini berkisar antara 50-100 m2, seperti di Grand Indonesia, Jakarta. Kemudian Midi Store, berukuran 15-40 m2, dan terakhir berupa kios berukuran di bawah 20 m2.Lain daripada itu, Oke Shop juga mengelola show room yang di dalamnya hanya terdapat satu merek saja (one brand store). Showroom yang dikelola Oke Shop adalah Nokia Care Center dan Sony Ericsson Service Center yang jumlahnya sekitar 50-an gerai. Namun, setiap showroom itu dilengkapi dengan layanan perbaikan (service center).Kesuksesan Ellianah tercermin dengan banyaknya penghargaan nasional dan internasional yang diterimanya. Seperti The Best National Distributor dari operator seluler Indosat, The Best Multimedia Sales Reward and The Best High End Product Sales Reward dari Nokia dan Superbrand Award dari Superbrand Indonesia.Walau sudah hampir mencapai seribu gerai, namun Ellianah mengaku  apa yang telah diapai masih terlalu kecil. “Saya diberitahu kalau di Rusia adalah satu merek ritel yang memiliki 6.000 toko. Jadi, kalau 700-an toko masih jauh sekali. Kami ingin seperti itu dan di Indonesia sangat dimungkinkan karena negara ini berbentuk kepulauan sehingga kebutuhan telekomonikasi cukup tinggi,” tutur Ellianah. Jabatan : Direktur Operasional PT Trikomsel Pendidikan : Arkansas State University  Marketing Director PT Trikomsel 2009 The Best National Distributor dari operator seluler IndosatThe Best Multimedia Sales Reward The Best High End Product Sales Reward dari Nokia Superbrand Award dari Superbrand Indonesia

[http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b8cdd7f5ecbce38958c414430e4a8646&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5]

View the original article here

Related For Tak Bisa Lepas dari Bisnis Distribusi Handphone