Menu Utama

OpenBTS, Open Source Paling Potensial

| Info

INILAH.COM, Jakarta – Tak perlu uang miliaran untuk membangun BTS sendiri. Tetapi cukup dengan biaya Rp200 juta. Prospektif dan menjanjikan.


Seperti kita ketahui, perusahaan operator seluler mendirikan banyak menara Base Transceiver Station (BTS) untuk mengoperasikan jaringan telekomunikasinya. Tapi berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun sebuah BTS? Tahukah Anda bahwa satu menara memakan dana milyaran?


Satu manara BTS biasanya terdiri atas tiga pemancar, dan satu pemancar harganya Rp3 milyar. Hasilnya, angka yang mencengangkan! Tapi operator tentu dapat membangunnya berkat konsumen operator seluler.


Onno W. Purbo, akademisi dan praktisi TIK, mengatakan, biaya BTS didirikan dengan uang yang kita belanjakan untuk membeli pulsa ponsel. Bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang menguntungkan. Orang tidak segan membelanjakan uang untuk beli pulsa.


Tarif pulsa yang ada sekarang ini sudah tergolong murah. Namun, ternyata biaya itu masih bisa lebih murah lagi. “Dengan menggunakan software open source dan sebuah hardware yang tidak terlalu besar, kita bisa bikin BTS sendiri,” ungkap Onno.


Itulah yang disebut dengan OpenBTS. OpenBTS adalah teknologi BTS open source yang bekerja dengan sebuah hardware yang bernama USRP (Universal Software Radio Peripheral) dan software terbuka asterisk.


USRP menghubungkan OpenBTS dengan jaringan standar telepon seluler (GSM), sedangkan asterisk berfungsi menginterkoneksikan dengan jaringan telepon lainnya seperti PSTN (Public Switched Telephone Network) atau operator telekomunikasi lain dengan menggunakan VoIP (Voice over IP).


Onno sudah mengimplementasikan teknologi ini. Ia pernah mengajarkan dan mempresentasikan OpenBTS di Aceh. Kala itu, secara kebetulan presentasinya disaksikan oleh Pemerintah Daerah Aceh. Di luar dugaan, tanggapan mereka sangat positif. “Mereka sebenarnya mau yang begituan,” katanya. Tujuannya, untuk mempermudah komunikasi lokal daerah mereka.


OpenBTS rasanya lebih banyak manfaatnya ketimbang risiko buruknya. OpenBTS dapat membantu daerah terpencil yang tidak disentuh operator seluler, seperti misalnya pedalaman Papua. “Orang Papua punya ponsel, tapi biasanya mereka menggunakannya untuk mendengarkan musik. Beli pulsa (ponsel) juga percuma, karena nggak ada BTS-nya.”


“Tidak ada operator seluler yang berani masuk ke kawasan pedalaman, karena biaya pasang BTS sangat mahal, dan mereka tidak melihat ada potensi konsumen di sana, sehingga mereka akan rugi,” ujar Onno.


Karena itulah, OpenBTS akan sangat bermanfaat membangun infrastruktur telekomunikasi di daerah seperti itu. Sepertinya memang logis, melihat operator telekomunikasi selalu memberikan layanan hanya kepada yang mampu bayar. Tapi di sisi lain, orang-orang di wilayah pedalaman yang terpencil akan semakin terkucil tanpa komunikasi dengan dunia luar.


Selain area terpencil, Onno juga mengatakan bahwa OpenBTS ini sangat baik didirikan di kawasan paska bencana yang infrastrukturnya rusak parah, serta di daerah perbatasan. Cara membuatnya mudah. “Lagipula protokol yang digunakan adalah protokol asterisk, yakni protokol yang persis sama dengan yang digunakan Telkomsel,” ujar Onno.


Tapi belum ada yang mengimplementasikan teknologi ini secara nyata di Indonesia. Alasannya, “Alatnya ini (USRP) ada di Amerika. Kalau ada yang berani beli, harganya sekitar Rp10 juta. Mahasiswa Indonesia bisa beli satu dan mengoprek alat itu supaya nanti bisa bikin sendiri.”


“Biaya membangun BTS mahal sekali. Tapi jika kita bisa membuat sendiri, biaya telekomunikasi akan semakin murah,” tambahnya.


Software menggunakan open source yang artinya dapat diperoleh gratis. Walaupun demikian, kendala utama dalam mendirikan OpenBTS adalah ketidak-adaan hardware, dan masalah frekuensi. Di Indonesia kedua hal itu diatur undang-undang.


“Karena frekuensi radio itu adalah sumber daya alam yang dikuasai negara. Jadi kita nggak bisa sembarangan menggunakannya. Menggunakan frekuensi tanpa izin akan melanggar hukum,” katanya. Onno sebenarnya pernah mengusulkan pemanfaatan teknologi OpenBTS ini kepada Kementrian Komunikasi dan Informatika.


“UU mengatakan bahwa di wilayah yang tidak beroperator, rakyat boleh bikin sarana komunikasi sendiri. Tapi karena untuk melaksanakannya butuh peraturan, dan pemerintah kesulitan membuat peraturannya, maka pemerintah memberi alternatif lain: masyarakat di daerah paska bencana, yang infrastruktur komunikasinya rusak, boleh mendirikan sarana komunikasi dengan meminta operator resmi sebagai payungnya, tapi dengan harga nego,” tutur Onno.


Bandingkan dengan pembuatan OpenBTS yang biayanya hanya sekitar Rp200 juta. Sarana ini tentunya akan membantu proses komunikasi antara kawasan yang dilanda bencana dengan wilayah luar.


“Di Indonesia sarana ini sangat bisa diterapkan. Orang Indonesia pintar-pintar, tapi alatnya belum ada. Padahal ini sangat menguntungkan dan sangat dibutuhkan,” katanya.


Tujuannya bukan untuk menyaingi vendor telekomunikasi yang sudah ada, walaupun itu juga sangat bisa dilakukan). Saat ini vendor telekomunikasi umumnya belum tau tentang teknologi OpenBTS.


“Kalau mereka tau, bahwa ada alternatif sarana telekomunikasi yang lebih murah, yang dapat digunakan banyak orang tanpa perlu bayar pulsa mahal, dapat dirakit dan di-install sendiri, bisa jadi vendor-vendor yang gencar perang tarif pulsa akan gulung tikar.,” ujarnya/


Ancaman serius? Tidak. Ambil saja sisi positifnya. Karena ilmu pengetahuan tak selalu profit oriented. Kalau orang Indonesia jadi pintar dan lebih bisa memanfaatkan teknologi secara tepat guna, kita sendiri yang untung.


Karena itu, saat ditanya, apakah OpenBTS adalah open source yang paling potensial dan menguntungkan, Onno dengan gamblang mengatakan “Iya”.


Jadi, ada yang mau coba? [mor]


sumber: [http://teknologi.inilah.com/]


 

Related For OpenBTS, Open Source Paling Potensial