Menu Utama

Layanan Mobile Payment, BI Panggil Bank dan Provider Telekomunikasi

Browse » Home » seluler , VAS » Layanan Mobile Payment, BI Panggil Bank dan Provider Telekomunikasi

Pesatnya perkembangan pembayaran melalui provider telekomunikasi dinilai tak mengancam bisnis perbankan. Kepala Biro Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Aribowo menyatakan bank tak perlu takut kehilangan pendapatan.

Saat ini transaksi mobile money yang menggunakan telepon seluler hanya mengambil ceruk pasar amat kecil. Jumlahnya baru 2-3 persen dari total transaksi harian (RTGS).

Data bank sentral menunjukkan, kegiatan usaha pengiriman uang melalui lembaga nonbank mencapai 4.900 transaksi dengan nominal Rp 21 miliar per hari. Jumlah ini tak seberapa dibandingkan dengan transaksi perbankan. Menurut Ari, transaksi harian mencapai Rp 210 triliun, kliring harian Rp 7 triliun, dan transaksi harian anjungan tunai mandiri (ATM) Rp 5 triliun.

Jika dibandingkan antara transaksi mobile money dan banking, jumlahnya tidak lebih dari 10 persen. “Paling hanya 2-3 persen,” ujarnya.

Direktur Utama Bank Negara Indonesia Gatot Suwondo mengatakan pesatnya perkembangan industri telekomunikasi bisa mengancam perbankan nasional. “Jika transaksi uang dikonversi dalam bentuk pesan singkat, bank akan bermasalah,” katanya, Senin lalu.

Setidaknya ada Rp 70 triliun bentuk transaksi melalui layanan perbankan, salah satunya ATM. Transaksi tersebut paling banyak di bawah Rp 50 ribu untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya membeli kebutuhan pokok.

Gatot, yang juga Ketua Perhimpunan Bank-bank Negara, meminta Bank Indonesia menetapkan aturan main yang jelas. Dia meminta industri telekomunikasi tidak membuka current account. “Bila dibuka current account, maka akan ada floating fund,” dia menandaskan.

Floating fund terjadi ketika dana atau laba yang telah terkumpul hanya berada pada satu tempat. Jika ini terjadi, tidak akan ada kredit atau pemberian modal untuk pengusaha kecil.

Ari mengakui transaksi pembayaran di masa mendatang akan beralih melalui provider telekomunikasi. Bank sentral akan mengajak industri perbankan dan telekomunikasi membahas masalah ini. “Kami meminta kompetisinya jangan head to head. Sebetulnya perusahaan telekomunikasi lebih banyak ke mikro,” katanya.

Bank bisa memetik peluang dengan melakukan ekspansi usaha. “Perusahaan telekomunikasi bisa membantu bank memperluas akses ke sistem pembayaran,” kata Ari.

Sejumlah perusahaan seluler meluncurkan layanan pembayaran elektronik atau mobile payment berbasis pulsa. Bank Indonesia mencatat ada 11 perusahaan yang menggunakan layanan mobile payment. Mereka adalah PT Telkomsel melalui T-Cash, PT XL Axiata melalui XL Tunai, PT Indosat Tbk melalui Dompetku, dan PT Indosat Tbk melalui Flexy Card.

[http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2011/06/18/brk,20110618-341533,id.html]

View the original article here

Related For Layanan Mobile Payment, BI Panggil Bank dan Provider Telekomunikasi