Menu Utama

“Dual SIM Card” Masih Gemuk di Kelas Bawah

| Info

KOMPAS.com – Salah satu alasan orang menggenggam telepon seluler (ponsel) dual SIM adalah kepraktisan. Menariknya, ponsel yang bisa memuat dua, bahkan lebih, kartu SIM ini lebih bergema di kelas bawah atau low end. Sementara pemainnya terutama produsen ponsel lokal maupun produsen asal China.

Manajer Teknik PT Metrotech Jaya Komunika, yang merupakan distributor Nexian, Isnur Rochmad, melihat pasar ponsel dual SIM di kelas low end tersebut sangat besar di Indonesia. “Ponsel Rp 500.000 ke bawah mendominasi pasar,” katanya.

Tak heran, kontribusi dual SIM mencapai 90 persen terhadap total penjualan Nexian tahun lalu. Distributor ponsel asal China ini tetap membidik angka kontribusi yang sama untuk penjualan sepanjang 2011. Namun, target total penjualan Nexian tahun ini ditargetkan naik dua kali lipat.

Pemain lain adalah IMO. Bahkan, produsen ini hanya memproduksi ponsel dual SIM. Media Relations IMO Sugiharianto Akbar mengatakan, pasar dual SIM besar karena para operator seluler menerapkan tarif berbeda.

“Konsumen masih beranggapan menelepon sesama operator lebih murah,” katanya. Inilah salah satu alasan orang mengoleksi sejumlah nomor.

IMO sendiri menargetkan penjualan tahun ini meningkat 35 persen. Sejak meluncurkan ponsel dual SIM tahun 2006, kini sudah ada 65 tipe ponsel IMO di pasaran. Harga jualnya juga terjangkau karena di bawah Rp 500.000.

Legitnya potensi pasar dual SIM dengan harga miring, menarik perhatian pemain besar seperti Nokia. Head of Marketing Nokia Indonesia Lukman Susetio mengaku langkah Nokia menggarap dual SIM dalam rangka merebut pasar ponsel yang lebih luas. Namun, dia menepis anggapan bahwa Nokia masuk ke kelas low end karena kalah bersaing di pasar ponsel pintar (smartphone) berkelas high end. “Nokia punya strategi khusus dan terus melakukan inovasi buat smartphone,” katanya.

Marketing Product Manager Nokia Indonesia Anvid Erdian mengatakan, selama 2011 produsen asal Finlandia ini sudah merilis tiga ponsel dual SIM di Indonesia. Yakni seri C2-00 seharga Rp 575.000, X1-01 berbanderol Rp 375.000 dan ponsel C2-03 yang harga legonya Rp 899.000. Ponsel C2-03 baru dirilis awal bulan puasa ini. Untuk menggenjot penjualan, tiga ponsel ini ikut program promosi “Parade Rezeki Sambut, Lebaran (Parsel) Nokia”.

Murah tapi tak murahan

Meski pasar dual SIM lebih banyak menyasar kelas low-end, para produsen tidak menomerduakan kualitas dan daya tariknya. Isnur berujar, beberapa kali Nexian menyodorkan ponsel dual SIM berkualitas high-end. Dengan dukungan teknologi Qualcomm, misalnya, Nexian sudah mengoleksi produk dual SIM memakai sistem operasi Android.

Nexian juga memproduksi dual SIM seri Glain yang berbalut bahan swarovski. Ada tiga tipe yang ditawarkan yakni Diva NX G model candy bar, Lady NX G738 model QWERTY, clan Princess NX G889 model layar sentuli. Model touch screen lain adalah dual SIM tipe Cappucinno dan Champion.

Lukman juga mengatakan, ponsel dual SIM yang diluncurkan Nokia tetap mengutamakan kualitas. Salah satu fitur andalan yang diusung adalah Easy Swap. Dengan fitur ini, pengguna dapat mengganti kartu SIM tanpa harus mematikan ponsel atau mencopot baterai.

“Lengkap dengan dukungan layanan punya jual di 90 gerai Nokia Care,” imbuhnya. Sayang, Lukman bungkam soal target penjualan dual SIM Nokia tahun ini.(Kontan/Anastasia Lilin Yuliantina)

View the original article here

Related For “Dual SIM Card” Masih Gemuk di Kelas Bawah